Aspek-aspek Ketuhanan dan Manusia Dalam Agama Tao

Aspek-Aspek Ketuhanan dan manusia Dalam Agama Tao

Dalam taoisme, tao atau jalan menjadi prinsip alam yang menyatu dengan alam dan berada di atas segala sesuatu yang ada di alam ini. Tao melengkapi setiap penciptaannya dengan de atau te nya atau kekuatan khususnya, terutama setelah proses penciptaan itu sendiri terjadi barulah kekuatan itu diberikan.

Tao dikenal dalam dunia manusia  melalui dewa-dewa dan orang-orang yang dianggap setengah dewa yang menjelma dalam diri manusia sepanjang masa. Dalam agama Tao, dewa-dewa diartikan sebagai administrator dan birokrat yang dapat berbuat sesuatu jika mereka mau. Para pengikut Tao mamuja dewa-dewa yang meliputi dewa-dewa bintang dan dewa-dewa pencipta alam, seperti sungai-sungai yang penting dan gunung-guung yang suci. Dalam agama Tao juga ada tokoh-tokoh yang diyakini banyak orang berasal dari langit, mereka murni dan tidak tersentuh atas penciptaan dunia

Konsep Mengenai Manusia dan Masyarakat

Hubungan manusia dengan masyarakat tergambar dengan tradisi-tradisi yang mereka ciptakan seiring perkembangan peradaban maka mulailah menusia menyusun aturan aturan dalam kelompok masyarakat yang bertujuan untuk menata kehidupan mereka. Dengan keidupan pribadinya kecerdasan dan akal budi yang dimiliki manusia sangat berperan penting. Dengan itu  secara otomatis muncul sosok-sosok cerdik pandai yang berpikir tentang hal-hal yang berada diluar jangkauan panca indera dan berada diluar kendali. Dari itu umat Tao bias berfikir untuk berusaha menata hidup dan bertahan hidup serta meningkatkan kualitas hidup mereka.

Dalam agama Tao, Manusia menjadi peran utama dalam hal apapun hal ini dapat dilihat pada korelasi manusia dengan beberapa aspek kehidupannya :

1.       Hubungan Manusia Dengan Alam

Menurut agama tao manusia adalah bagian dari alam, semua yang dilakukan manusia akan menyebabkan perubahan untuk alam maka dari itu tao selalu menganjurkan pada  manusia agar selaras dengan alam.

Manusia sempurna telah menyamakan irama hidupnya sedemikian sempurna dengan irama daya-daya alam sehinmgga dia menjadi tak-terbedakan darinya dan memiliki kekekalan dan keterbatasan yang melampaui siklus kehidupan dan kematian orang biasa. Kaum Tao berpendapat bahwa agar manusia bisa tetap bisa bertahan hidup maka harus bisa menyesuaikan diri dan menjaga keharmonisan dengan Alam.

“dari yang satu melahirkan dua, dua melahirkan Tiga (alam beserta isinya), dan tiga melahirkan segalanya” dari Filsafat inilah Manusia tercipta, karena dalam kepercayaan Tao Manusia dipercaya sebagai bagian dari alam. Oleh karena itu manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya alam, penganut Tao percaya bahwa agar manusia dapat bertahan hidup maka harus bisa menyelaraskan dengan hukum alam (Wu Wei). Dengan begitu keharmonisan akan selalu terjaga dengan baik tanpa ada kekacauan yang diakibatkan oleh pertentangan sikap manusia dengan hukum alam. Inilah yang menjadi pondasi dasar ajaran Taoisme.

2.       Hubungan Manusia Dengan Tuhan

Begitu juga hubungan manusia dengan tuhan dan dewa, Karena keterbatasan panca indera, kadang manusia merasa ‘Tidak Berdaya’ menghadapi berbagai peristiwa alam seperti banjir, gempa bumi dan lain-lain. Manusia sadar akan keterbatasan dirinya. Maka mulailah manusia ‘Mencari Perlindungan’ kepada sosok ‘Penguasa Alam’. Mulailah dilakukan berbagai pemujaan dan persembahyangan untuk memohon perlindungan. Semakin lama semakin tertata seiring dengan perkembangan budaya

Terkadang manusia sangat memerlukan pertolongan, perlindungan, dan ketenangan jasmani terlebih lagi Batiniah. Hal ini sebenarnya sangatlah lazim oleh karena itu manusia mulai berfikir dan mengakui bahwa sebenarnya ada kekuatan yang lebih besar yang pernah ada dibandingkan dengan dirinya, dialah “Yang Maha”. Berbagai macam upaya dilakukan oleh manusia untuk bisa berkomunikasi dengan Yang Maha, memanjatkan do`a, dan lain sebagainya.

Berbeda halnya dengan ajaran Tao, para penganut Tao mempercayai adanya Yang Maha sebagai Inti atau sumber dari segalanya “Tao”, namun dalam hal praktek ritual mereka lebih memilih menghormati dan memuja laluhur mereka, karena mereka mengangap bahwa leluhur merekalah yang senantiasa melindungi mereka, selain itu hanya merekalah yang bias menyampaikann secara langsung apa keinginan mereka, doa, keluh-kesah kepada Yang Maha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s