Sejarah Neo-Konfusianisme

Sejarah Neo-Konfusianisme

Dosen:

Dra.Hj. Siti Nadroh,M.Ag 

Jurusan Perbandingan Agama

Fakultas Ushuluddin 

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2012 M/1433 H

 

id.wikipedia.org

 

Neo-Konfusianisme adalah filosofi cina etika dan metafisika dipengaruhi oleh konfusianisme, yang terutama dikembangkan selama dinasti song dan dinasti ming, tetapi yang dapat ditelusuri kembali ke han yu dan li ao (772-841) dalm dinarti tang.

Neo-Konfusianisme merupakan upaya untuk menciptakan bentuk yang lebih rasionalis dan sekuler dari konfusianisme dengan menolak unsur-unsur takhayul dan mistis dari taoisme dan buddha yang dipengaruhi konfusianisme selama dan setelah dinasti han.

Tokoh cendekiawan Neo-Konfusianisme:

Cina: Cheng Yi dan Cheng Hao; Lu Xiangshan; Ouyang Xiu; Shao Yong; Su Shi; dll.

Jepang: Fujiwara Seika; Hayashi Razan; Nakae Toju; Yamazaki Ansai; dll.

Korea: An Hyang; Yi Saek; jeong Mong-ju; Jeong Dojeon; Gil jae; dll.

Vietnam: Nguy?n Khuy?n; Phan Dinh Phung; dll.

1.      Konfunsianisme pada periode tiga kerajaan

                Paham dan kepercayaan yang pertama kali masuk ke korea sebelum konfunsianisme adalah buddhisme,yaitu pada zaman tiga kerajaan korea.agama buddha memengaruhi sistim pendidikan,moral dan politik,dan pada saat yang sama konfunsianisme dipraktekan oleh kalangan istana.kerajaan gogureyo yang paling dekat lokasinya dengan tiongkok,pertama kali mengadobsi budaya tiongkok dan buddhisme.konfunsianisme pertama kali diterima di goguryeo,lalu berturut-turut ke baekje dan silla kemungkinan sejak abad ke-4 masehi,saat ketiga negara telah mencapai tingkat kematangan.

Walau begitu goguryeo tetap memelihara adat istiadat dan tradisi aslinya.dipihak lain,baekje menerapkan paham konfunsianisme secara penuh,yang membentuk sistem pemerintahan dan seni budaya.sila tercatat paling akhir menerima konfunsianisme untuk mengatur administrasi negaranya.

2.      Neo-konfunsianisme pada zaman dinasti joseon

                Paham konfunsianisme di joseon diterapkan sangat ketat dengan penggunaan idedan ideal yang ketara.chung adalah kesetiaan,hyo rasa persatuan , in rasa kebajikan dan sin adalah kepercayaan.sejak 1392,saat berdirinya joseon,konfunsianisme dianut secara mendalam oleh kaum bangsawan dan para pejabat.masyarakat korea sejak lama telah mudah untuk mengikuti ajaran kepercayaan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai penganut agama.keluarga istana adalah oenganut konfunsianisme,biksu disisi buddhisme yang semakin terdesak dan rakyat yang mempraktekan shamanisme.

Konfunsianisme memainkan peranan yang teramat penting yang diterapkan secara luas pada bidang administrasi negara dan peraturan sosial,mengintegrasikan masyarakat yang berbudaya berdasarkan cara tiongkok untuk meningkatkan transfer budaya dari negri tersebut.sekolah-sekolah tinggi dibangundengan dasar dan sistem konfunsius,dengan tenaga ahli dan ilmuan dari tiongkok.

http://www.facebook.com/groups

 

Nabi-nabi Purba Umat Konghucu

Nabi Purba Ru Jiao/Khonghucu (01) – Nabi Baginda Fu Xi

Nabi Baginda Fu Xi 伏羲 2953 s.M. –2838 s.M.

 
Sheng Wang  聖 王 bermarga Feng 風 di wilayah Chen Zhou 陳州 (He Nan 河南).
 
Menerima wahyu He Tu 河 圖 (Peta dari sungai Huang He) yang berisi tanda-tanda Xian Tian Ba Gua先天八卦 yang berupa titik-titik yang melambangkan tanda Yin 陰 (negatif) dan Yang 陽 (positif) yang di kemudian hari dilukiskan dalam bentuk garis patah (–) dan garis utuh (—). 

Beliau mengajarkan orang menggunakan tali untuk mencatat, berburu dan menangkap ikan, menggunakan kulit binatang untuk pakaian serta membuat pasar untuk saling bertukar.
 

Nabi Purba Ru Jiao/Khonghucu (02) – Nu Wa

Nu Wa 女 媧

Adik perempuan Fu Xi / Bao Xi 包 羲bermarga Feng 風 
 
Beliau menjadi pembantu utama baginda Fu Xi didalam menetapkan undang-undang, khususnya hukum perkawinan dan tertib melakukan sembahyang dan ibadah. Beliau pun berhasil menyelamatkan dunia dari kebinasaan karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. 
 
Sejaman dengan beliau dikenal pula tokoh-tokoh lain seperti You Chao Shi 有 巢 氏 yang mengajarkan orang membangun tempat tinggal di atas pohon dan Sui Ren Shi  燧人氏 yang mengajarkan orang membuat pemetik untuk menyalakan api. Oleh peranan mereka, kebudayaan dan peradaban manusia kian berkembang. 
 
 

Nabi Purba Ru Jiao/Khonghucu (03) – Nabi Baginda Shen Nong

Nabi Baginda Shen Nong 神 農 2838 s.M. – 2718 s.M.
 
Bermarga Jiang 姜 ibunya bergelar Ren Si 任 姒. 
 
Beliau mengajarkan cara membuat Luku dan Garu, bercocok tanam dan beternak. Beliau juga mengajarkan cara memanfaatkan api untuk memasak dan sebagainya, maka beliau juga disebut Yan Di 炎 帝. Peradaban pada waktu itu, telah beralih dari jaman masyarakat yang nomad yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, berkelana dari suatu tempat ke tempat lain menjadi mulai bercocok tanam dan menetap. 
Shen Nong pun membuat peraturan untuk menanggulangi pelestarian lingkungan. Shen Nong juga menemukan berbagai macam tanaman obat-obatan, yang bahkan sampai menelan korban jiwanya sendiri, ketika ia mencoba sebuah tanaman yang beracun.
 
 
 Nabi Purba Ru Jiao/Khonghucu (04) – Nabi Baginda Huang Di
Nabi Baginda Huang Di 黃 帝 2698 s.M. – 2598 s.M. 
 
Sheng Wang dari kaum Xuan Yuan 軒 轅 ibunya bernama Fu Bao 附 寶. 
 
Beliau menerima wahyu Lu Tu 籙 圖 (Peta Wahyu) setelah mengembara di sekitar sungai He Luo 河 洛 dan menitahkan Ying Long 應 龍 membunuh Chi You 蚩 尤 dari kaum Yan Di 炎 帝 yang memberontak. 
 
Beliau menjadi pembangun peradaban di Tiongkok seperti tentang astronomi, sawah dengan system sumur (Jing 井), tatabusana untuk tanda peringkat jabatan, nama-nama hari bulan dan tahun, hukum dan tata pemerintahan serta undang-undang, kitab ilmu kedokteran, dan lainnya.  
 
 

Nabi Purba Ru Jiao/Khonghucu (05) – Lei Zu

Lei Zu 嫘 祖 

Puteri dari Xi Ling西 陵, istri Huang Di.
Penemu cara pembudidayaan ulat sutera dan banyak membantu baginda Huang Di merencanakan tata busana untuk para pejabatnya. 
Mempunyai 25 orang anak, yang pertama bernama Xuan Xiao     玄 囂 bergelar Qing Yang 青 陽 yang menurunkan baginda Shao Hao 少 昊yang melanjutkan kedudukan Huang Di; anak kedua bernama Chang Yi 昌 意; cicit baginda Chang Yi menjadi baginda Zhuan Xu 顓 頊 dan dua belas putera yang lain masing-masing juga menjadi nenek moyang berbagai marga di Tiongkok.
 
 
selengkapnya kunjungi alamat:
 

 

 

 

Daftar Alamat dan Jadwal Kebaktian Litang di Indonesia

Daftar Alamat dan Jadwal Kebaktian Litang di Indonesia

Litang adalah salah satu tempat ibadah umat Khonghucu. ‘Li’ berarti Kesusilaan dan ‘Tang’ berarti aula. Litang awalnya hanya bagian dari Miao/Kelenteng yang digunakan sebagai tempat berkumpul untuk berdiskusi. Namun sejak orde baru dimulai keberadaan Miao/Kelenteng yang dilarang membuat umat Khonghucu yang ingin beribadah menjadi kesulitan sehingga untuk menyiasatinya di dirikanlah rumah ibadah tersendiri yang di sebut Litang ini. 

Daftar Litang/MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) dibawah ini sangat jauh dari lengkap oleh  karena itu dimohon kepada teman2 dapat membantu untuk melengkapinya dengan mengisi kolom KOMENTAR dibawah dengan menuliskan Nama MAKIN dan Jadwal Kebaktiannya dengan format seperti dibawah:

  • Nama MAKIN :
  • Alamat :
  • Kebaktian Umum : Hari/Jam
  • Kebaktian Pemuda/i(PAKIN) : Hari/Jam
  • Kebaktian Anak-anak : Hari/Jam
  • Kebaktian Ce It/Cap Go : Jam
  • Peta : Silakan buka Google Maps kemudian print screen kirim dalam bentuk JPEG ke meandconfucius@gmail.com (Klik Gambar untuk Memperbesar)
  • Rute Angkot/Bis : Untuk memudahkan apabila ada yang ingin Kebaktian tetapi tidak tahu rute-nya


Berikut adalah daftarnya :

BANTEN

1. MAKIN TANGERANG
Jl. Ki Samaun No. 145 Tangerang No.Telp 021-5521412

  • Kebaktian Umum : Jumat, 19.30 – Selesai
  • Kebaktian PAKIN : Sabtu, 19.30 – Selesai
  • Kebaktian Anak-anak : Minggu, 08.30 – Selesai















2. MAKIN RAWA BOKOR
Jl. Benda Raya Rt.02 Rw.04 No. 42 Kel. Benda, Kec. Benda Rawa Bokor Tangerang 15125 

  • Kebaktian Umum : Senin, 19.30 – Selesai
 
 
 
 
 
 
 
JAWA BARAT

1. MAKIN CIMANGGIS / SUKMAJAYA 
Jl. Flamboyan No. Rt.01 Rw. 06 Cisalak Pasar, Kec. Cimanggis, Depok, Bogor

  • Kebaktian Umum : Minggu, 19.00 – Selesai
  • Kebaktian PAKIN : Minggu, 17.30 – Selesai
  • Kebaktian RAKIN (6 SD-3 SMP) : Minggu, 10.00 – Selesai
  • Kebaktian Anak-anak : Minggu, 8.00 – Selesai
  • Kebaktian Ce It/Cap Go : 19.00 – Selesai

2. MAKIN CURUG
Jl. Pemuda Gang Litang No. 69 Rt 03/05, Desa Curug Kec. Gunung Sindur, Bogor – 16430 
  • Kebaktian PAKIN : Minggu, 14.00 – Selesai
  • Kebaktian WAKIN (Wanita) : Minggu, 12.00 – Selesai
  • Kebaktian Anak-anak : Minggu, 08.00 – Selesai
  • Kebaktian Ce It/Cap Go : 19.30 – Selesai
 
 
 
 
 
 
3. MAKIN RANCABUNGUR
Jl.Raya Letkol Atang Senjaya 47 Pasirgaok, Kec. Kemang, Bogor 16330 
  • Kebaktian Umum : Minggu, 13.00 – Selesai
  • Kebaktian PAKIN : Minggu, 10.00 – Selesai
  • Kebaktian Anak-anak : Minggu, 8.00 – Selesai
  • Kebaktian Ce It/Cap Go : 19.00 – Selesai
 
 
 
 
 
 
 
4. MAKIN COGREG 
Jl. Suka Bakti Rt 05 Rw 07, Kp. Cogreg Ds. Cogreg Kec. Parung, Bogor 
  • Kebaktian Umum : Minggu, 11.00 – Selesai
  • Kebaktian PAKIN : Minggu, 13.00 – Selesai
  • Kebaktian Anak-anak : Minggu, 8.00 – Selesai
 
 
 
 

5. MAKIN BANDUNG
Jl.Cibadak No. 225i Bandung

  • Kebaktian Umum : Minggu, 10.30 – Selesai
  • Kebaktian Ce It/Cap Go : 19.00 – Selesai
  • Rute Angkot : Angkot yang lewat Cikudapateuh-Ciroyom bisa diliat disini
 

Sejarah Asal Mula Perayaan Ceng Beng

Sejarah Asal Mula Perayaan Ceng Beng

 
 
Tradisi ini berasal dari tradisi kerajaan di zaman dulu. Ceng Beng (baca : Qing Ming = cerah dan cemerlang) dipilih karena 15 hari setelah Chunhun, biasanya dipercayai merupakan hari yang baik, cerah, terkadang diiringi hujan gerimis dan cocok untuk melaksanakan ziarah makam. Sebelum zaman Dinasti Qin, ziarah makam hanya monopoli dan hak para bangsawan. Namun setelah Qin Shi-huang mempersatukan Tiongkok dan mengabolisi para bangsawan, rakyat kecil kemudian meniru tradisi ziarah makam ini setiap Ceng Beng.
 
Sebuah legenda asal mula Ceng Beng menceritakan tentang kaum Cina yang memang punya tradisi yang sedikit banyak tertuju pada peringatan leluhur (sebutannya “kia hao” atau “filial piety”, alias “rasa hormat anak pada orang tua/leluhurnya”) . Makanya di rumah-rumah Cina banyak ditemukan rumah abu atau meja sembahyang leluhur. Karena itulah, nyekar juga menjadi satu kegiatan wajib. 
 
 
Legenda 1

Hari *Ceng Beng* bermuasal dari zaman *Chun Qiu Zhan Guo *(Musim semi-gugur dan negara saling berperang, abad 11-3 SM), adalah salah satu hari perayaan tradisional suku Han (suku mayoritas di Tiongkok), sebagai salah satu dari 24 *Jie Qi *(sistem kalender Tiongkok), waktunya jatuh antara sebelum dan sesudah 5 April Masehi.
 
Sesudah hari *Ceng Beng*, di Tiongkok semakin banyak hujan, bumi dipenuhi dengan panorama kecemerlangan musim semi. Pada saat itu semua makhluk hidup “melepaskan yang lama dan memperoleh yang baru”, tak peduli apakah itu tanaman di dalam bumi raya, atau tubuh manusia yang hidup berdampingan secara alamiah, semuanya pada saat itu menukar pencemaran yang diperoleh pada musim dingin/salju untuk menyambut suasana musim semi dan merealisasi perubahan dari *Yin *(unsur negatif) ke *Yang* (unsur positif).
 
Konon, sesudah Yu agung (Raja pada zaman Tiongkok kuno, abad ke-22 SM) menaklukkan sungai, maka orang-orang menggunakan kosa kata *Qing Ming *(di Indonesia terkenal dengan *Ceng Beng*) untuk merayakan bencana air bah yang telah berhasil dijinakkan dan kondisi negara yang aman tenteram.
 
Pada saat itu musim semi nan hangat bunga bermekaran, seluruh makhluk hidup bangkit, langit cerah bumi cemerlang, adalah musim yang baik untuk berkelana menginjak rerumputan (Ta Qing). Kebiasaan tersebut telah dimulai sejak dinasti Tang (618-907).
 
Saat *Ta Qing*, orang-orang selain dapat menikmati panorama indah musim semi, juga sering dilangsungkan beraneka kegiatan hiburan untuk menambah gairah kehidupan.
 
 
Legenda 2
 
Konon, jaman dahulu, terutama bagi orang-orang yang berduit dan berharta, nyekar itu tidak hanya diadakan sekali setahun, tapi bisa berkali-kali (dua kali sebulan bahkan). Dan acara ini dibuat penuh dengan kemewahan dan benar-benar mempertontonkan kekayaan. Kaum sanak keluarga ditandu ke sana lalu ke mari, diiringi dayang-dayang dan pengawal yang berjumlah banyak, makanan yang dibawa itu pasti yang enak-enak dan bunga yang disiapkan juga yang mahal dan harum-harum. 
 
Suatu hari, Kaisar Tang Xuanzong melihat semuanya ini seperti pemborosan massal saja. Dia pun menitahkan agar semua membatasi diri dan hanya mengadakan acara nyekar ini sekali setahun. Dan ia menetapkan hari Ceng Beng (lima belas hari setelah Chunhun, atau hari di mana matahari tiba di katulistiwa) sebagai hari baik untuk ini. Selain karena Ceng Beng adalah hari baik (arti kata Ceng Beng, atau Qing Ming, adalah “cerah dan terang”), hari ini dipilih karena banyak petani sudah selesai panen dan punya waktu senggang untuk mengunjungi makam leluhur. Jadilah Ceng Beng bukan hanya kegiatan orang kaya, tapi kegiatan untuk semua orang.
 
 
Legenda 3
 
Kesederhanaan Ceng Beng juga berkaitan erat dengan cerita Kaisar Cong Er dari Dinasti Tang. Seperti kisah Cina kuno lainnya, latar belakangnya adalah kudeta. Pada masa pelarian (karena berselisih dengan selir kejam) ketika masih jadi putra mahkota Cong Er ini ditemani oleh teman (dan bawahan) yang sangat setia, Jie Zhitui namanya. Saking setianya, dia rela untuk mengorbankan dagingnya supaya si pangeran ini bisa makan dan nggak mati kelaparan. Suatu hari, tiba kabar bahwa Cong Er sudah tidak perlu lari lagi, karena ibu tirinya sudah mati. Bersiaplah Cong Er untuk kembali ke istana dan jadi kaisar. Tapi Je Zhitui menolak untuk ikut balik ke istana, dan menyepi ke sebuah gunung bersama Ibunya.
 
Cong Er yang sudah jadi kaisar itu tetep kukuh meminta temannya balik dan hidup bahagia di istana. tapi Jie Zhitui bukannya balik ke istana malah semakin bersembunyi ke pedalaman gunung. Cong Er yang sudah habis akal menyuruh prajuritnya untuk membakar gunung, dengan maksud supaya Jie Zhitui keluar dari persembunyian. Tetapi, yang terjadi bukannya keluar, malah Jie Zhitui dan Ibunya tewas terbakar. 
 
Sedihlah sang kaisar. Lalu ia mencanangkan Hari Hanshi (Hari Makanan Dingin), satu hari dalam setahun (setiap tahunnya) di mana orang-orang tidak boleh memasak/memanaskan makanan dengan api. Lambat laun Hanshi pun diintegrasikan ke dalam perayaan Ceng Beng, di mana makanan yang disediakan itu dingin dan hambar.
 
 
Legenda 4
 
Cerita legenda yang lain menyebutkan tentang seorang Raja yang sudah bertahun-tahun pergi berperang (jaman perang antar kerajaan di Cina dulu), namun berakhir dengan kekalahan dan menjadi tawanan perang yang tidak terhormat di negeri lawan. Tapi raja ini tidak tinggal diam dan diam-diam mengumpulkan sekutu untuk mempersiapkan serangan balas dendam. Singkat cerita raja ini berhasil melakukan balas dendam dan negaranya pun kembali ke dalam tangannya.
 
Sewaktu ia kembali ke rumah, dia baru tahu kalau orang tuanya sudah lama meninggal — dibunuh oleh raja musuh. Dan parahnya lagi tidak ada yang tau di mana orang tua sang raja dimakamkan. Sang Raja akhirnya punya akal dan mencanangkan hari kunjungan makam leluhur. Pada hari yang telah ditentukan, semua orang di negaranya harus dan wajib nyekar. Logikanya, makam yang sepi dan nelangsa, pastilah makam orang tuanya. Sejak hari itulah, setiap tahun semua wajib nyekar ke makam leluhur.
 
Secara Awam, masih banyak yang belum jelas bahwa sebenarnya mengapa Ceng Beng itu selalu jatuh pada 5 April setiap tahunnya, dan bukannya mengikuti penanggalan kalender Imlek. Dalam tradisi Tionghoa, ada 2 penanggalan yang menggunakan penanggalan masehi. Yakni Ceng Beng dan Tang Che/Festival musim dingin.
 
Kelihatannya, kalender Tionghoa itu kalender bulan, tidak begitu halnya, karena ada faktor peredaran matahari di dalamnya, yaitu 24 posisi matahari. 1 posisi matahari adalah berjangka waktu 15 hari, ada 2 posisi matahari dalam 1 bulan. Posisi ini telah ada sejak zaman Huangdi (2697 SM, 4700 tahun lalu) didasarkan atas 12 cabang bumi yang diciptakan olehnya.
 
Penanggalan Tionghoa sendiri memperhitungkan peredaran matahari karena Tiongkok sejak dulu adalah negara agrikultur, mayoritas penduduk Tiongkok adalah petani dan petani harus menanam sesuai musim. Musim bergantung pada peredaran matahari, sehingga posisi matahari ditambahkan dalam kalender Tionghoa.
 
Adapun posisi penting peredaran matahari dalam kelender Tionghoa adalah :
 
1. Lipchun (mulai musim semi), tanggal 5 Februari
2. Chunhun (tengah musim semi), tanggal 21 Maret (matahari berada di khatulistiwa)
3. Ceng Beng (cerah dan terang), tanggal 5 April
4. Heche (tengah musim panas), tanggal 21 Juni (saat ini matahari berada pada 23.5 LU, siang terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok)
5. Chiuhun (tengah musim gugur), tanggal 23 September (matahari berada di khatulistiwa)
6 Tangche (tengah musim dingin), tanggal 22 Desember (saat ini matahari berada di 23.5 LS, malam terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok).
 
Dari 24 posisi matahari ini, maka Ceng Beng dan Tangche dijadikan festival penting dalam kebudayaan Tionghoa.
 
 
Kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan Ceng Beng
 
Pada jaman dinasti Tang, implementasi hari Ceng Beng hampir sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan. Yang hilang pada saat ini adalah menggantung lembaran kertas, yang sebagai gantinya lembaran kertas itu ditaruh di atas kuburan. 
 
Kebiasaan lainnya adalah bermain layang-layang, makan telur, melukis telur dan mengukir kulit telur. Permainan layang-layang dilakukan pada saat Ceng Beng karena selain cuaca yang cerah dan langit yang terang,kondisi angin sangat ideal untuk bermain layang-layang. 
 
Konon, ada orang setelah layang-layang berkibar di langit biru, memutus talinya, mengandalkan angin mengantarnya ke tempat nan jauh, konon ini bisa menghapus penyakit dan melenyapkan bencana serta mendatangkan nasib baik bagi diri sendiri.
 
Kebiasaan berikutnya adalah menancapkan pohon *Willow*: konon, kebiasaan menancapkan dahan *willow*(pohon Yangliu), juga demi memperingati *Shen Nong Shi*, yang dianggap sebagai guru leluhur pertanian dan pengobatan. Di sebagian tempat, orang-orang menancapkan dahan* willow *di bawah teritisan rumah, untuk meramalkan cuaca. Sesuai pameo kuno “Kalau dahan *willow* hijau, hujan rintik-rintik; kalau dahan *willow* kering, cuaca cerah”. *Willow* memiliki daya hidup sangat kuat, dahannya cukup ditancapkan langsung hidup, setiap tahun menancapkan dahan willow, dimana-mana rimbun.
 
Sedangkan sejarah pohon Liu dihubungkan dengan Jie Zitui, karena Jie Zitui tewas terbakar di bawah pohon liu.
 
Kebiasaan lain adalah bermain ayunan *Qiu Qian*: ini adalah adat kebiasaan hari *Ceng Beng* zaman kuno. Sejarahnya panjang, ayunan pada zaman dulu kebanyakan menggunakan dahan sebagai rangka kemudian ditambatkan selendang atau tali.
 
Akhir-nya berkembang menjadi 2 utas tali ditambah papan kayu sebagai pijakan kaki yang dipasang pada rangka balok kayu yang hingga kini digemari, terutama oleh anak-anak seluruh dunia.
 
Selain itu ada kebiasaan bermain *Cu Ju* (sepak bola kuno): *Ju* adalah semacam bola yang terbuat dari kulit, di dalam bola tersebut diisi bulu hingga padat. *Cu Ju *menggunakan kaki untuk menyepak bola (Mirip sepak bola saat ini). Ini adalah semacam permainan yang digemari oleh orang-orang pada saat *Ceng Beng *pada zaman kuno. Konon ditemukan oleh *Huang Di *(kaisar Kuning), pada awalnya bertujuan untuk melatih kebugaran para serdadu.
 
Ada juga kebiasaan untuk Menanam pohon: sebelum dan sesudah *Ceng Beng*, matahari musim semi menyinari, hujan rintik musim semi betebaran, menanam tunas pohon berpeluang hidup tinggi dan dapat tumbuh dengan cepat. Maka, semenjak zaman kuno, di Tiongkok terdapat kebiasaan menanam pohon di kala *Ceng Beng*. Ada orang menyebut hari *Ceng Beng* sebagai “hari raya penanaman pohon”. Kebiasaan ini berlangsung hingga hari ini.
 
Pada dinasti Song (960-1279) dimulai kebiasaan menggantungkan gambar burung walet yang terbuat tepung dan buah pohon liu di depan pintu. Gambar ini disebut burung walet Zitui. Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian kertas panjang di kuburan dan menaruh kertas di atas batu nisan itu dimulai sejak dinasti Ming.
 
Menurut cerita rakyat yang beredar, kebiasaan seperti itu atas suruhan Zhu Yuanzhang, kaisar pendiri dinasti Ming,untuk mencari kuburan ayahnya. Dikarenakan tidak tahu letaknya, ia menyuruh seluruh rakyat untuk menaruh kertas di batu nisan leluhurnya. Rakyat pun mematuhi perintah tersebut, lalu ia mencari kuburan ayahnya yang batu nisannya tidak ada kertas dan ia menemukannya. (Dalam kisah ini agak berkaitan dengan Legenda 4 diatas. Namun karena ditemukan pada literatur yang berbeda, penyusun tidak berani mengambil kesimpulan sendiri. Mohon bagi yang lebih paham ceritanya memberikan masukan).
 
Seperti perayaan lainnya, Ceng Ceng juga memiliki makanan khas seperti makan telur yang kulitnya sudah dilukis, tapi untuk telur yang diukir tidak dimakan. Selain itu ada beberapa yang mungkin tidak pernah ada di Indonesia ini seperti makanan dari daun Ai yang menjadi ciri khas suku Khe, bubur dingin, ciri khas rakyat dibawah kaki gunung Mian, serta Qing tuan adalah makanan khas Qingming dari daerah Suzhou.
 
Pesan Moral Perayaan Ceng Beng :
 
Festival Ceng Beng pada akhirnya terkait dengan pilar-pilar budaya Tionghoa yaitu penghormatan leluhur, makanan, kekerabatan, keselarasan dan harmony, setia, berbakti, dan juga kebersamaan. Dan hal itu tidak hanya ada pada festival Ceng Beng saja tapi tercermin pada semua festival Tionghoa yang ada.
 
Dengan menghormati leluhur berarti kita harus menjaga sikap hidup kita agar tidak mencoreng nama leluhur. Semoga pada perayaan festival Ceng Beng ini kita menyadari bagaimana cara kita menghormati leluhur, caranya sederhana yaitu berikanlah kontribusi positif pada lingkungan kita dan selalulah menjaga perilaku kita agar tidak memalukan para leluhur.
 
 
Sumber Penulisan:
1. Berdasarkan cerita turun temurun Masyarakat Tionghoa Indonesia.
5. TRADITIONAL CHINESE CULTURE by Qizhi Zhang.
6. The Legend of the Kite: A Story of China(Make Friends Around the World)by Kuiming Ha, Yiqi Ha. Published by Soundprints 
9. Dong Zhou Lie Guo Zhi (東周列國志), Feng, Menglong, 1574-1646, 2008.(pertama terbit 1752, Shanghai shu ju)
10. Buletin Maya Indonesia Dharma Mangala, 9 Maret 2004, tahun I, no 7
 

Sejarah Neo-Taoisme

Sejarah Neo-Taoisme

Dosen:

Dra.Hj. Siti Nadroh,M.Ag 

Jurusan Perbandingan Agama

Fakultas Ushuluddin 

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2012 M/1433 H

 

Neo Taoisme adalah bentuk taoisme yang berkembang di Cina pada abad ke-3 dan ke-4. Kekhawatiran utama adalah hubungan atntara penarikan pribadi untuk karakteristik sifat taoisme, dan etika sosial dan politik dari konfusianisme.

Neo Taoisme adalah salah satu gerakan pembaharuan, dimana terdapat sebuah kelompok yang bertekad untuk mengembalikan agama Tao kepada Tao klasik, yaitu untuk menafsirkan kembali tema-tema Taois yang asli dan memadukannya dengan Konfusianisme. Neo-Taois diperkirakan berkembang pada tahun 200-1000 SM. Dimana pada saat itu, para penganut Tao sudah terpengaruh dengan agama Buddha. Buddhisme Zen yang didirikan berabad-abad lalu, kemudian dipengaruhi oleh prinsip Neo-Taois.

Mereka menganggap wu-wei adalah sesuatu yang alami. Mereka justru menambahkan Yu-wei, yaitu kegiatan yang mereka percayai sebagai sesuatu yang tidak alami. Kaum Neo-Taois mengambil sikap yang berbeda tentang emosi. Mereka percaya, dengan merasakan dan meredam emosi dapat membuat mereka menjadi lebih bijaksana. Seperti yang diungkapkan oleh Wang Pi “Orang bijak pun memiliki emosi, tetapi tanpa menjadi terpikat olehnya.”

Selain itu, kaum Neo-Taois memercayai sesuatu yang diungkapkan dalam I Ching. Segala yang terus menerus selalu berubah, tidak pernah diam. Taoisme dimodifikasi cukup tajam, membuka kemungkinan bagi filsuf yang muncul belakangan untuk menggabungkan prinsip-prinsip Taois dengan Neo-Konfusianisme.

Taoisme(aliranTaoisme)

Diajarkan oleh Lao Tse (guru Tua) hidup sekitar 550 SM,menentang ajaran konfusianisme. Tao bukan jalan manusia tetapi jalan alam. Pranata dan konvensi social harus ditinggalkan.manusia harus menarik diri dari peradaban dan kembali ke alam. Menjunjung tinggi tao dan alam sehingga taoisme disebut juga naturalistic. Para penganut ajaran ini menganggap alam adalah tempat menarik diri, mencita-citakan kehidupan yang sederhana, dengan inti ajaran wu wei. Taoisme pecah menjadi dua, masing-masing dipelopori oleh Zhuang Zi (350-275 SM) dan Yang Zhi(abadVdanVI)

 

http://www.facebook.com/groups

Sejarah Agama Konghucu di Indonesia

Sejarah Agama Konghucu di Indonesia

Dosen:

Dra.Hj. Siti Nadroh,M.Ag

 

Disusun oleh:

Rahman. Taufik :   1110032100054

 

Jurusan Perbandingan Agama

Fakultas Ushuluddin 

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2012 M/1433 H

sindonews.com

 

  1. Sejarah Agama Konghucu di Indonesia

Kabar Indonesia-Sabtu,27 Januari 1979 seperti hari keam bagi umat konghucu. Sebuah kabar buruk muncul pada siding cabinet yang berlangsung hari itu,Konghucu bukan agama. Siar ini,diterima atau tidak ketika itu, telah menempatkan status Konghucu di Indinesia ke posisi abu-abu. Tak jelas, Padahal secara de jure,saat itu masih ada sejumlah peraturan perundang-undangan yang saling bertentangan menyangkut nasib konghucu.

 

Kisah kelam selama lebih dari 3 dasa warsa ini baru berakhir di masa pemerintahan Abdurrachman Wahid. Di era kekusaannya, presiden Gus Dur membuat terobosan dengan mencabut Intruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri. Tindakan ini member pesan bahwa”tidak ada lagi istilah agama yangdiakui dan tidak diakui pemerintah. Termasuk MATAKIN yang langsung berbenah diri memulihkan eksistensinya untuk berdiri sejajar dengan agama lainnya di Indonesia,”terang UUNG”.

  1. Pro Kontra Agama Konghucu

Pihak yang pro agar Konghucu diakui sebagai agama, menuduh bahwa para penentangnya mempunyai motif tertentu, seputar pengikut (umat) dan materi semata-mata. Semakin banyak pengikut, maka akan semakin banyak pula dana yang dapat dihimpun. Mereka melihatnya dari kenyataan di lapangan, di mana banyak tokoh- tokoh agama tertentu yang agresif dalam “menyelamatkan” umat manusia; khususnya orang Tionghoa, dari “kuasa kegelapan”. Untuk mudahnya sebut saja agama XY, agama X dari sekte Y.

 

Sebaliknya pihak yang kontra juga mengemukakan berbagai argumentasi. Pertama adalah argumentasi yang berkembang dari ajaran monotheisme yang menyatakan, bahwa agama adalah wahyu dari Tuhan yang diturunkan

melalui Nabinya yang tercatat di Kitab Suci masing-masing. Sedangkan Nabi adalah utusan Tuhan. Karena Konghucu orang biasa, bukan Nabi yang tercatat dalam Kitab Suci ajaran monotheisme, maka Konghucu tidak bisa diakui sebagai agama.

 

Argumentasi ini pada dasarnya pertentangan antara ajaran monotheisme dengan polytheisme. Argumentasi ini juga dapat mengundang perdebatan yang tiada berakhir, karena kenyatannya ada Nabi dari agama monotheisme yang satu yang tidak diakui oleh agama lain, bahkan lebih jauh lagi ada agama yang secara internal tidak mengakui agama lain.Diyakini oleh berbagai pihak, pertentangan terhadap pengakuan Konghucu pada dasarnya adalah argumentasi di atas, namun banyak orang yang tidak mau secara terbuka mengemukakan argumentasi tersebut.

Padahal kalau argumentasi ini yang dipakai, maka agama Buddha yang diakui sebagai agama resmi di Indonesia juga akan terkena dampaknya.

 

 

  1. Dasar Hukum Pengakuan agama Konghucu

Hak Asasi Manusia adalah hak dasar yang melekat pada manusia sejak lahir yang merupakan pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada seorangpun, bahkan negara boleh mencabut atau melanggar hak asasi manusia. Salah satu hak yang paling mendasar adalah hak seseorang untuk beragama. Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing sesuai dengan kepercayaannya. Hal tersebut bahkan dijamin dalam konstitusi Indonesia yaitu dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana diatur dalam Pasal 28 E ayat (1) yang menjelaskan bahwa “Setiap orang bebas memeluk dan beribadat menurut agamanya”. Jelaslahh sudah hak untuk memeluk agama dan kebebasan untuk beribadah menjadi hak konstitusional bagi Warga Negara Indonesia.

Indonesia sebagai negara yang majemuk dan terdiri dari berbagai macam kultur dan budaya, sangat menghormati perbedaan. Perbedaan tidak seharusnya dipandang sebagai pemicu konflik namun harus dipandang sebagai suatu aset kekayaan budaya. Wilayah Indonesia yang terbentang luas dari Sabang hingga Merauke dengan kondisi geografis yang beragam dengan bentuk negara kepulauan, membuat Indonesia kaya akan budaya. Setiap daerah memiliki budayanya masing-masing. Sama halnya dengan berkembangnya kepercayaan di Indonesia. Masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Hal ini ditandai dengan berkembangnya kepercayaan animisme dan dinamisme dalam masyarakat Indonesia bahkan sebelum berkembangnya agama. Dengan kultur masyarakat Indonesia yang demikian religius, perlindungan kebebasan memeluk agama menjadi sangat penting di Indonesia.

Selama lebih dari 20 tahun umat Khonghucu terombang-ambing dengan ketidakpastian. Akhirnya, pada masa reformasi, Presiden K.H. Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Dengan adanya Keppres ini, umat Khonghucu dapat menjalankan segala sesuatu yang berkaitan dengan agamnya tanpa rasa takut lagi.

 

http://www.facebook.com/groups

TATA CARA PERKAWINAN DAN KEMATIAN AGAMA KHONGHUCU

TATA CARA PERKAWINAN DAN KEMATIAN AGAMA KHONGHUCU

Dosen Pembimbing : Dra. Siti Nadroh MA,g

A. PERKAWINAN

 

Dalam agama Konghucu perkawinan diartikan sebagai salah satu tugas suci manusia yang memungkinkan manusia melangsungkan sejarahnya dan mengembangkan benih-benih firman Thian, Tuhan yang Maha Esa, yang berwujud kebaikan, yang bersemayam didalam dirinya serta selanjutnya memungkinkan manusia membimbing putra-putrinya. Pada tahun 1975 hukum perkawinan agama Konghucu resmi dibentuk sesuai peraturan perundang-undangan Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974. Dalam perkawinan agama konghucu ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pasangan mempelai diantaranya :

 

  1. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara pria dan wanita dengan tujuan membentuk keluarga bahagia dan melangsungkan keturunan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Dasar perkawinan umat Konghucu adalah Monogamy demi tercapainya tujuan perkawinan yang suci murni.
  3. Perkawinan harus berdasarkan kemauan kedua calon mempelai (suka sama suka)
  4. Kedua calon mempelai tidak terikat dengan pihak lain yang dianggap sebagai pasangan hidup rumah tangga.
  5. Pengakuan Iman wajib bagi kedua calon mempelai sehingga benar-benar dewasa bukan saja dari segi usia tetapi juga dalam berfikit, bertindak dan bertingkah laku.
  6. Pada waktu acara pernikahan, kedua orang tua harus ikut hadir demi kerukunan dan kedamaian.
  7. Bila salah satu atau kedua belah pihak tidak memenuhi syarat pernikahan dapat dibatalkan.
  8. Perkawinan tidak bermaksud menceraikan seseorang dari sanak saudaranya karena akan membangun hidup baru, melainkan menyatukan keluarga yang satu dengan yang lain, memupuk persaudaraan yang luas.
  9. Tujuan utama perkawinan adalah keharmonisan.

 

Dalam Agama Khonghucu ada beberapa tahapan dalam melaksanakan prosesi perkawinan diantaranya :

 

a. Adat dan Upacara Sebelum Perkawinan

Kegiatan yang dilakukan oleh umat konghucu biasanya diawali denga upacara lamaran, ikatan pertunangan, perundingan untuk pelaksanaan perkawinan seperti hari, tanggal dan tempat, untuk tempat pelaksanaan adat upacara seperti ini biasanya diadakan di rumah mempelai wanita.

 

b. Adat dan Upacara Saat Perkawinan

Dalam upacara ini calon mempelai diwajibkan menggunakan pakaian khusus pernikahan adat tionghoa, senanjutnya melaksanakan pesta Chio Thau yaitu upacara tradisional peranakan lengkap dengan segala asesoris pernikahan yang menyertainya. Acara ini dianggap sebagai syarat syah sebuah pernikahan dalam tradisi Konghucu.

 

c. Adat dan Upacara Setelah Perkawinan

Dalam tradisi masyrakat Tionghoa setelah perkawinan selesai ada tradisi yang disebut Upacara Pulang Tiga Hari dan Upacara Pulang Sebulan Yaitu kegiatan menemui keluarga besar sebagai rasa trimakasih atas segala doa dan restu dan bantuannya yang telah dilimpahkan kepada pengantin pernikahan.

 

B. KEMATIAN

 

Dalam ajaran tentang kematian di agama Khonghucu ada dua istilah yang sangat populer yaitu Upacara dan Ritual. Upacara adalah kegiatan yang dilakukan secara berkelompok atau sekumpulan manusia untuk melakukan kegiatan rutin dalam memperingati hari-hari yang dinilai memiliki makna sejarah, sedangkan Ritual adalah tatacara keagamaan atau bisa disebut dengan ucapan suci.

Dalam agama Khonghucu Kematian diartikan sebagai :

–          Konsep Hao (H-Shio) yaitu berbakti atau hormat kepada yang lebih tua.

–          Konsep She yaitu pelanjur Marga.

–          Konsep Hokky yaitu pembawa berkah bagi keluarga yang ditinggalkan.

–          Konsep Abu Leluhur yaitu Pemujaan arwah leluhur yang dipercaya dapat melindungi anak

 

keturunan dari mala petaka dan menjadi media pembawa berkah, selain itu dipercaya sebagai media memanggil arwah atau yang lebih dikenal dengan istilah (Puak Pai).

 

Makna kematian dalam agama Khonghucu adalah menyadarkan manusia untuk tidak bersikap sombong kepada orang lain, dan lebih bersikap Cinta Kasih kepada orang lain. Seperti halnya dalam Agama lain dalam prosesi kematian ada beberapa yang harus dilaksanakan seperti :

–          Membersihkan jenazah

–          Pengganti pakaian jenazah

–          Sembahyang

 

Adapun pelaksanaannya :

–          Pengurusan jenazah

–          Pemberangkatan

–          Penguburan

–          Sembahyang

–          Mencari nafkah

 

Ajaran tentang kematian dalam Agama Khonghucu merupakan suatu ajaran yang harus ditaati oleh umatnya, karena didalam kitabnya dijelaskan bahwa “Manusi berasal dari Bumi dan akan kembali kebumi”. “Dan seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya dari ia masih hidup sampai meninggal”.

 

Makalah ini bersumber dari Grup Fb

http://www.facebook.com/groups